![]() |
| Analogi gambar tawaf |
Mungkin masih banyak orang yang bertanya-tanya mengapa orang Islam
diwajibkan bertawaf mengelilingi ka’bah ketika melaksanakan ibadah haji? Dan mengapa pula ketika
bertawaf kita meski melawan arah jarum jam, dari kanan ke kiri?
Berikut ini saya petikkan dari tulisan Dr.
Thariq Muhammad al-Suwaydan tentang makna tawaf:Tawaf dimulai dari Hajar Aswad. Ka’bah berada di sisi kiri, dan berjalan memutar melawan arah jarum jam. Lalu mengapa tawaf dilakukan dengan berjalan ke kiri? Mengapa ka’bah diposisikan di sebelah kiri orang yang bertawaf? Apa arti semua itu?
Planet-planet termasuk matahari, berjalan pada rotasinya dengan berputar
dari kiri ke kanan, terbalik dengan arah jarum jam. Bahkan, galaksi
Bimasakti pun berjalan dari kiri. Elektron-elektron juga demikian.
Dalam
tubuh manusia, darah bersirkulasi dari jantung ke seluruh tubuh dari
arah kiri. Jika kita katakan, bergerak atau berputar, itulah makna
tawaf. Jadi, alam raya seakan tawaf dan bertasbih kepada Penciptanya.
Seluruh alam bertasbih kepada Sang Pencipta, kemudian hal itu disebut
gerak atau rotasi. Itulah tawaf. Allah Swt berfirman,
“Tidak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka” (QS. Al Isra: 44)
Alam yang kita alami hanyalah satu dari milyaran galaksi. Semua itu ada di langit dunia. Allah Swt berfirman,
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS. AL Dzariyat: 47)
Semua
langit berhubungan dengan langit sesudahnya seperti lingkaran di padang
pasir. Begitu seterusnya sampai langit ketujuh. Setiap bintang dan
planet memiliki galaksi dan rotasi ke arah kiri. Semua tidak pernah
melampaui garis edarnya dalam berputar. Jarak antara bintang-bintang dan
planet-planet sangat jauh. Jarak antara bumi dan matahari sekitar 386
juta kilometer. Sedangkan jarak bulan dan bumi sekitar 150 juta
kilometer. Jarak yang jauh ini tidak seberapa dibandingkan jarak yang
ada di alam raya ini. Jarak antara satu bintang dan bintang yang lain
diperkirakan sekitar empat tahun perjalanan cahaya. Kecepatan cahaya
adalah 360.000 kilometer/detik.
Subhan Allah, wa al-hamd li Allah, wa la ilaha illa Allah, Allah akbar
(Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah,
Allah Maha Besar). Lebih besar dari semua itu. Lebih besar dari semua
yang kita ketahui, dan yang tidak kita ketahui.
Jika dipikirkan,
dengan tawaf seorang muslim berarti mengikuti irama alam semesta dan
mengikuti malaikat yang tawaf di Bayt al-Ma’mur di langit ketujuh. Bisa
jadi tawaf yang mengindikasikan perputaran waktu ini merupakan isyarat
bagi jemaah haji agar mengatur segala urusannya dan berusaha sekuat
tenaga untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Pandanglah bumi ini. Manusia
akan menyadari posisinya dan akan tampak kecil di hatinya. Lihatlah
planet dan galaksi. Semua akan tampak besar di hatinya. Ia akan berkata,
“Bumi ini hanyalah noktah yang berenang di angkasa.” Ia akan berkata di
hatinya “Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Allah lebih
besar.”
Akhirnya, semua itu mendorongnya untuk tunduk dan merendahkan
diri. Seluruh alam semesta bertawaf menyembah Allah dan kita bergerak
bersamanya. Alam semesta pun tunduk kepada-Nya. Dalam tawaf kita
mengikuti alam semesta: menghadap Allah. Kita berputar mengikuti
aturan-Nya. Kita berusaha mengikuti iramanya di bumi agar tidak terjadi
ketimpangan di alam semesta.
Red : Hajar Aswad
Sumber: Rahasia Terindah Haji dan Umrah oleh Dr. Thariq Muhammad al-Suwaydan


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !